Wisata Sejarah di Istana Siak Sri Inderapura, Riau



Awalnya tidak ada rencana sama sekali mengunjungi istana siak. Kebetulan saat itu sedang ada dinas ke Pekanbaru  dari kantor. Jadi acara nya di hari senin, sementara dari minggu pagi kita sudah sampai di Pekanbaru, kecepetan nyampenya karena sudah kehabisan tiket pesawat di sore hari.
Karena banyak sisa waktu dan gak tau mau kemana, jadi kita berencana jalan ke Siak. Kebetulan waktu itu ada saudara salah satu teman yang tinggal di Pekanbaru dan menawarkan ke Siak dan bisa pakai mobil mereka. Oke deh tentu aja mau.

Perjalanan dari Pekanbaru ke Siak memakan waktu sekitar 2,5 jam. Sepanjang jalan cukup membosankan karena pemandangan yang ada hanya kebun sawit di kiri dan kanan.

Sampai di Kota Siak kita akan disambut jembatan Siak yang megah. Yaitu Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah yang membelah sungai Siak, sebagai gerbang utama memasuki daerah pusat pemerintahan Kabupaten Siak. Berhubung kondisi jalanan yang sedang sepi jadi gak ada salahnya singgah sebentar untuk berfoto, tapi harus tetap hati-hati ya.





Suasana di kota Siak ini rapi, bersih, dan tertib. Bangunan pemerintahnya ikonik khas melayu dan megah. Sayangnya suasana jalanan sepi dan seperti tidak ada penghuni, hanya ada beberapa mobil dan sepeda motor yang lalu lalang.

Sampai di area komplek Istana Siak barulah kita merasakan keramaian warga yang ingin mengunjungi istana siak. Selain istana siak juga terdapat  taman Siak yang menghadap langsung ke sungai Siak. Taman ini ramai dikunjungi dan banyak pedagang kaki lima  mulai dari menjajakan makanan hingga souvenir.




Tiket masuk Istana Siak Rp. 10.000 untuk dewasa dan Rp.5.000 saja untuk anak-anak, khusus pengunjung mancanegara lebih mahal yaitu Rp.20.000.

Istana Siak Sri Inderapura atau Istana Asserayah Hasyimiah atau Istana Matahari Timur merupakan kediaman resmi Sultan Siak yang mulai dibangun pada tahun 1889, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim. Istana ini merupakan peninggalan Kesultanan Siak Sri Inderapura yang selesai dibangun pada tahun 1893. Kini istana ini masuk wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Siak.
Kompleks istana ini memiliki luas sekitar 32.000 meter persegi yang terdiri dari 4 istana yaitu Istana Siak, Istana Lima, Istana Padjang, dan Istana Baroe. Istana Siak sendiri memiliki luas 1.000 meter persegi.

Istana Siak memiliki arsitektur bercorak Melayu, Arab, dan Eropa. Bangunannya terdiri dari dua lantai. Lantai bawah dibagi menjadi enam ruangan sidang: Ruang tunggu para tamu, ruang tamu kehormatan, ruang tamu laki-laki, ruang tamu untuk perempuan, satu ruangan di samping kanan adalah ruang sidang kerajaan, juga digunakan untuk ruang pesta. Lantai atas terbagi menjadi sembilan ruangan, berfungsi untuk istirahat Sultan serta para tamu istana. Di puncak bangunan terdapat enam patung burung elang sebagai lambang keberanian Istana. Sementara pada halaman istana masih dapat dilihat delapan meriam menyebar ke berbagai sisi-sisi halaman istana, kemudian di sebelah kiri belakang istana terdapat bangunan kecil yang dahulunya digunakan sebagai penjara sementara. (sumber: Wikipedia)





Agak membingungkan sebenarnya mengenai alur pengunjung di Istana ini, mulai dari gedung loket tiket yang posisinya tidak jelas dan letaknya terpisah jauh dari pintu masuk, jadi banyak beberapa pengunjung yang bingung dan masuk aja ke area istana tapi belum membeli tiket. Pintu masuk dan keluar istana di bedakan dan dijaga ketat oleh penjaga dengan pakaian security yang khas melayu.
Setelah masuk ke dalam istana ternyata istana  ini tidak terlalu besar, sebentar saja kita sudah mengelilingi seluruh area istana. Lantai 2 istana digunakan sebagai kamar tempat istritahat penghuni istana.



Secara umum pengelolaan istana ini sudah cukup baik dengan tidak meninggalkan unsur-unsur budaya melayu nya. Hanya saja masih perlu peningkatan lagi terutama papan petunjuk dan alur pengunjung. Juga perawatan istana perlu diperhatikan juga, pada saat datang kesana terkesan seperti bau apek terutama di area lantai 2.

Akses menuju siak juga masih terbatas menurut saya. Belum ada transportasi umum yang mudah menuju tempat ini. Dan sejauh ini yang saya lihat datang hanya kenderaan pribadi dan bus pariwisata saja, belum ada melihat kenderaan umum.